Thursday, November 10, 2011

"KARMA"dlm pandangan islam ( sumber http://dir.groups.yahoo.com/group/P-H-I/message/1659)

Siang itu, menjelang zhuhur, seperti biasanya kami berjalan menuju masjid untuk Sholat berjamaah. Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan seorang kawan yang kebetulan juga sedang menuju mesjid. Kamipun segera terlibat dalam pembicaran yang cukup seru. Hingga sampailah pada pembicaran yang saat ini lagi hangat-hangatnya dibicarakan dilingkungan kerja kami yaitu adanya salah seorang pejabat yang mengalami pemukulan oleh seorang lelaki yang menuduhnya berselingkuh dengan istrinya.

Yang akan kami bicarakan disini bukan gosip seputar pejabat tersebut. Namun pendapat rekan kami tadi. Beliau beranggapan bahwa orang yang melakukan perbuatan sebagaimana pejabat tadi pasti akan mendapatkan karma dikemudian hari dalam bentuk ketidakberesan pada keluarganya seperti misalnya istrinya juga selingkuh, anaknya sakit atau terkena narkoba, atau bahkan tidak bisa punya anak atau berbagai penderitaan lain. Sering kita mendengar pendapat semacam ini bukan hanya  keluar dari rekan kami tadi tapi juga dari kalangan umat yang mengaku dirinya beragama Islam.

Marilah coba kita telaah lebih dalam sebenarnya darimana asal kata KARMA yang telah berurat berakar di benak sebagian masyarakat muslim  di Indonesia. Kata Karma sebenarnya kita jumpai dalam ajaran agama hindu yang lengkapnya di sebut KARMAWIBANGGA. Dalam kitab weda, disebutkan bahwa manusia hidup tidak terlepas dari karma yang terbawa dari kehidupan sebelumnya. Dalam faham ini seseorang yang bertabiat buruk akan mendapatkan karma buruk sehingga dikehidupan berikutnya ketika reinkarnasi akan menjadi makhluk yang menderita misalnya jadi monyet, anjing dan sebagainya ataupun tetap menjadi manusia namun hidupnya sengsara. Meskipun dikehidupan sekarang telah berusaha baik, tidak menjamin untuk medapatkan kebahagiaan dikehidupan sekarang. Kebaikannya dikehidupan sekarang kemungkinan baru akan mendapatkan karma baiknya pada kehidupan mendatang.

Pandangan mengenai KARMA dari agama Hindu ini telah banyak merasuk dalam benak beberapa umat muslim. Mereka tidak menyadari bahwa itu bukan dari ajaran agama Islam. Bahkan yang lebih buruk lagi pandangan Karma telah bergeser lebih jauh lagi. Yaitu datangnya karma sekaligus terjadi pada kehidupan ini. Barang siapa menabur angin maka akan menuai badai. Kira-kira begitu pandangan sebagian orang.
Bagaimanakah seharusnya menurut agama Islam? Dalam AL Qur’an surat

Al Baqarah ayat 155 difirmankan ”
. Juga alam surat Al-Anbiya ayat 35 Selanjutnya dalam surat Al-Anfal ayat : 28 difirmankan

Dari ayat di atas dapat diambil intisarinya bahwa Allah Azza Wa Jalla memberikan nikmat hidup berupa kebahagian seperti harta melimpah dan anak yang baik maupun penderitaan hidup seperti misalnya kelaparan, kemiskinan dan penyakit hanyalah untuk menjadikannya sebagai cobaan. Bahkan, uijian berupa kesenangan dan kenikmatan pada khakekatnya lebih berat dari ujian berupa kesukaran hidup. Banyak orang yang berhasil dalam ujian kesusahan, tetapi gugur dalam ujian kenikmatan. Hal ini terjadi karena manusia tidak memahami kenikmatan dan kesenangan itu sebagai cobaan. Akibatnya pada saat manusia dalam keadaan sehat, kaya dan berkuasa ia lupa daratan, lupa diri, bahkan lupa pada Allah. Sebagaimana sabda Rasullulah saw. Dalam HR Bukhari:

Jadi dalam ajaran Islam segala kersukaran dan kemudahan hidup bukan merupakan karma tapi sebagai cobaan. Banyak cerita tentang para Nabi dimana kadar keimannya sudah tidak perlu diuji lagi. Namun selalu mengalami cobaan yang berat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda :

Jadi semakin baik dan semakin kuat keimanan seseorang justru akan semakin berat cobaanya. Tidak benar apabila sesorang hidupnya menderia maka dia sedang terkena KARMA. Namun yang benar ia sedang dicoba karena mungkin ia tergolong orang yang tahan cobaan sehingga cobaannya akan lebih berat. Dengan harapan apabila ia berhasil melewati cobaan dengan ridlo dan ikhlas maka limpahan pahala akan didapatkannya.
Sebagai contoh adalah kisah Nabi Luth dan Nabi Nuh. Dimana Nabi Luth tidak berhasil membawa istrinya kejalan kebenaran hingga akhirnya termasuk orang yang mendapat azab hujan batu dan api hingga akhirnya tewas. Demikian juga dengan Nabi Nuh yang tidak berhasil membujuk anaknya ke jalan kebenaran dan bersedia ikut masuk kedalam perahu Nuh,  sehingga anaknya ikut menjadi korban air bah meskipun telah berusaha mendaki bukit tertinggi pada peristiwa datangnya air bah.  Dari kejadian ini tentunya kita tidak bisa mengatakan bahwa kedua Nabi tersebut mendapat hukum karma atas kejahatannya sehingga anak dan istrinya kafir dan mati menggenaskan.  Memang benar bahwa balasan didunia bisa saja terjadi tapi tidak selalu demikian Sebagaimana difirmankan dalam Al Qur’an surat Al An-An’am ayat 120

” ....Dan sesungguhnya Kami merasakan sebahagian azab yang dekat(di dunia) sebelum azab yang lebih besar (diakherat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar) ”.” .....Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari Kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.”
untuk menguji ketaqwaannya sebagaimana kedua kisah Nabi di atas. baginya sehingga diharapkan dirinya akan menjadi sadar atas perbuatan dosanya dan kembali ke jalan yang benar. Sedangkan apabila orang tersebut adalah orang yang selalu taat beribadah dan selalu berbuat kebenaran sesuai syariah berarti penderitaan hidupnya hanyalah merupakan . Selain itu penderitaan hidup ini akan menjadi ini akan menjadi kaffarat pengurang dosa-dosanya di akherat kelak. Sebagaimana sabda rasulullah saw dalam HR Muttafaq Alaih : ” Dari kedua ayat ini jelaslah bahwa sesorang yang berbuat dosa akan mendapatkan balasannya bisa didunia maupun pada hari pembalasan/akherat nanti. Boleh jadi seseorang yang berbuat dosa mendapatkan azabnya langsung didunia kemudian hidupnya menderita namun azab atau
Lalu bagaimana dengan orang yang hidupnya selalu berbuat dosa namun hidupnya penuh kemuliaan dan selalu bahagia? Hal ini berarti bahwa orang itu tidak mendapatkah hidayahNya sehingga tidak pernah dibukakan hatinya dan diakherat kelak akan mendapatkan azab yang paling pedih, karena selama hidupnya selalu berbuat dosa dan tidak pernah terkurangi dengan adanya kaffarat karena memang hidupnya tidak pernah/jarang mengalami penderitaan.
Demikianlah ulasan mengenai KARMA menurut pandangan Islam. Kebenaran datangnya dari Allah. Sedangkan apabila ada kesalahan pasti datangnya dari kami , sehingga kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami.

Wassalam.

2 comments: